Tampilkan postingan dengan label indonesian(in bahasa). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesian(in bahasa). Tampilkan semua postingan

Workshop Komik Gratis dari DKJ- Jakarta

Dear All,

Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Workshop Komik sebagai bagian
dari kegiatan Festival Tanda Kota untuk 20 orang, gratis

Read more...

Jaya Suprana-Si Multitalent Pencetus Kelirumologi

Jaya Suprana, orang Tionghoa yang besar dalam budaya Jawa. Pria
bertubuh tambun dan berkacamata tebal yang lahir di Bali, Denpasar,
27 Januari 1949 ini akrab di hadapan publik lewat acara televisi Jaya
Suprana Show di TPI. Pendiri Museum Rekor MURI dan pencetus
kelirumologi ini mempunyai beragam predikat – mulai dari pengusaha,
pembicara, presenter, penulis, kartunis, pemain piano hingga pencipta
lagu – yang diakui oleh lembaga tingkat dunia seperti Die Welt, Los
Angeles Times, The Guardian, Wall Street Journal, dan Straits Time.


Semasa muda, Jaya pernah menjadi pedagang buku bekas di Semarang pada
tahun 65-an. Bahkan ketika sekolah di Jerman ia tak sungkan menjadi
tukang bubut, tukang pasang ubin, atau menjadi pegawai kafetaria
mahasiswa. Sepulang belajar di Jerman ia sempat menjadi Manajer
Pemasaran Jamu Jago, sebelum naik jabatan sebagai presiden direktur.



Setelah sekitar delapan tahun menjadi direktur di perusahaan jamu
yang diwarisinya dari keluarga - yang berdiri sejak tahun 1918 - Jaya
beralih ke posisi presiden komisaris. Kini, tugasnya hanya
mengarahkan GBHP (Garis Besar Haluan Perusahaan) dan mengawasi
kinerja perusahaannya.


Dalam berbagai kesempatan, Jaya selalu muncul bersama tokoh-tokoh
politik kelas wahid di negeri ini. Meskipun begitu, Jaya tidak
tertarik pada urusan politik. Di samping itu, ayahnya juga pernah
berpesan agar Jaya tidak terjun ke dunia politik karena politik pada
prakteknya justru sering menjadi berhala dan menguasai makhluk
tertinggi ciptaan Tuhan itu.


Pada 27 Januari 1990, ia mendirikan Museum Rekor Indonesia (MURI)
sebagai bagian dari visi ke depannya untuk menghimpun semua prestasi,
perilaku, dan kegiatan yang unik, langka, dan kreatif. Museum yang
selokasi dengan Museum Jamu Jago ini sudah menjadi objek wisata resmi
Kota Semarang, Jawa Tengah.


Sebagai seorang pemikir dan penulis, Jaya mengobok-obok berbagai
literatur dan media untuk mempelajari kekeliruan dan kesalahkaprahan
yang telah dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari. Hingga
akhirnya, ia memelopori istilah kelirumologi dan melahirkan buku
berjudul Kaleidoskopi Kelirumologi, yang mengajak pembaca untuk lebih
peka terhadap hal-hal yang dianggap benar padahal salah di tengah-
tengah masyarakat. Misalkan saja, semboyan yang dipercaya masyarakat -
mens sana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa
yang sehat). Jaya mengatakan bahwa di dalam tubuh yang sehat, belum
tentu hadir jiwa yang sehat. Jaya memberi contoh Mike Tyson atau
penghuni Rumah Sakit Jiwa, bertubuh sehat tapi jiwanya sakit.


Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia memperoleh puluhan
penghargaan nasional maupun internasional dalam bidang seni musik
(dari Freundeskreis des Konservatoriums Muenster, Jerman, dan dari
Pangeran Bernhard, Belanda), kebudayaan (Budaya Bhakti Upapradana),
komputer (Best in Personal Computing Award 1995 dari Apple Macintosh
Inc.), industri-bisnis (The Best Executive Award 1998), prestasi
perusahaan (Trade Leader's Club, Madrid, dan Institut pour Selection
de la Qualite, Belgia), lingkungan hidup (Sahwali Award 1997),
kemanusiaan (Duta Kemanusiaan 1991 - 1992 Palang Merah Indonesia),
dan lain-lain.


Sebagai kartunis, lulusan Musikhochschule Muenster dan
Folkwanghochschule Essen, Jerman ini telah menggelarkan karyanya di
Jerman, Norwegia, dan Indonesia sendiri. Sedangkan untuk urusan
musik, selama ini Jaya dikenal sebagai komponis dan pianis andal yang
sudah tampil di berbagai negara di Eropa, Amerika, Aljazair, Selandia
Baru, dan lain-lain.



Pendidikan musik yang ditekuninya selama lima tahun membuat Jaya
mampu melahirkan karya-karyanya sendiri. Ia tampil pertama kali dalam
resital piano tunggal tahun 1981 di Taman Ismail Marzuki. Penampilan
keduanya digelar di Erasmus Huis untuk merayakan 50 tahun usia
Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Di bidang kemanusiaan, ia ikut
memelopori program donor ginjal jenazah di Indonesia.
Pada pertengahan 2003 lalu, Jaya memelopori iklan layanan
masyarakat `Indonesia Pusaka' dan membuat program berdurasi 60
menit `Di Balik Adegan Indonesia Pusaka' yang ditayangkan di TPI di
rumah produksi Jatayu Cakrawala Film.


Iklan layanan masyarakat `Indonesia Pusaka' yang dibuat dalam rangka
menyambut Satu Abad Bung Hatta ini merekam lebih dari 20 figur,
sebagian tokoh ternama, menyanyikan lagu kesayangan Bung Hatta, yakni
Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki. Tokoh-tokoh ternama yang
berhasil `dikumpulkan' oleh Jaya antara lain Presiden Megawati
Soekarnoputri, mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Ketua MPR Amien
Rais, dan sejumlah menteri dan mantan menteri.



Sementara dari nonpejabat ada artis Nurul Arifin, Marisa Haque,
peharpa Maya Hasan, violis Idris Sardi, Ketua Persatuan Tukang Becak
Jakarta, dan seorang wanita pemulung. Termasuk juga putri Bung Hatta,
yakni Halida dan Gemala. Waktu itu, pada setiap sesi rekaman masing-
masing tokoh, Jaya sibuk pula berfungsi sebagai pelatih menyanyi
kilat, konduktor, penata musik, sekaligus editor.


Kini, di usianya yang semakin senja, tanpa seorang anak, Jaya tetap
berkarya, berbuat kebaikan dan suka memberi. Ia mengangkat anak asuh
dan mendirikan Panti Asuhan Rotary-Suprana. Di atas tanah warisan
almarhumah ibunya, Lily Suprana, seluas 900 m2 di kawasan Candi Baru,
Semarang, kini tinggal sekitar 10 orang anak. Semuanya lelaki.
Perkembangan panti yang biaya operasionalnya didukung bersama dengan
Yayasan Rotary ini memang bagus karena kebanyakan anak asuhnya
memperoleh ranking di kelasnya masing-masing. Bahkan bagi anak yang
mendapat rangking 1 diberikan hadiah atas prestasinya itu.

Sifat suka memberi tidak lepas dari didikan keras sang ayah, Lambang
Suprana, yang mengajarnya untuk tidak memberhalakan kekayaan dan
sadar bahwa harkat dan martabat manusia bukan diukur dari kekayaan
harta bendanya, namun dari kekayaan akhlak dan imannya. Itulah
mengapa, Jaya tidak ambil pusing tentang masa tuanya, karena ia
tinggal `menunggu mati' saja dan siap pergi ke surga.


Mengenai kesuksesan yang diperolehnya, Jaya mempunyai pandangan
sendiri. Menurutnya, kesuksesan baginya belum tentu kesuksesan bagi
orang lain. Ia menganalogikannya dengan olahraga lari. Baginya, ia
sudah termasuk sukses mampu berlari 100m dalam waktu 10 menit, namun
bagi Carl Lewis itu merupakan prestasi memalukan. Oleh karena itu,
Jaya mengatakan bahwa yang penting bukan merasa sukses, melainkan
mensyukuri hasil karya yang telah ia perjuangkan.

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/j/jaya-suprana/index.shtml
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Read more...

Spirit Berkesenian Eddy Hermanto

EDDY Hermanto (46), adalah perupa yang memiliki multiprofesi. Selain
dikenal sebagai pelukis, ia adalah penulis, kartunis, karikaturis,
ilustrator, kurator dan pendidik jebolan Pendidikan Seni Rupa IKIP
(sekarang UPI) Bandung. Dalam dunia tulis-menulis ia mengawalinya
pada 1980-an sampai pertengahan 1990-an, sebagai wartawan hiburan di
koran Mandala. Di dunia hiburan, Eddy termasuk wartawan yang telah
ikut membesarkan nama sejumlah penyanyi seperti, Inka Kristi, Merry
Andani, dan Nafa Urbah. Selain itu, ia menulis pula sejumlah esai
seni rupa di beberapa media massa yang terbit di Bandung dan Jakarta.

Sebagai karikaturis, kartunis dan ilustrator, karyanya juga sering
nampang di berbagai media massa, termasuk di harian ini. Adapun
sebagai co-kurator (Eddy tak mau disebut kurator), ia sering
menguratori karya para perupa yang akan dipamerkan, baik di Bandung,
Jakarta dan kota lainnya. Dalam kapasitasnya sebagai kurator, ia
adalah kepercayaan kurator Mamannoor. Sebagai pendidik, ia cukup
supel dan rendah hati. Dalam dunia pendidikan ia mengawalinya pada
1990-an s.d. 1999 sebagai guru Seni Rupa dan Bahasa Indonesia di SMA
Negeri Cibeber, Cianjur. Dan pada 1999 s.d. sekarang ia juga masih
dipercaya sebagai pengajar pelajaran Bahasa Indonesia dan Seni Rupa
di SMA Negeri 17 Kota Bandung.

Sedangkan dunia kartun ditekuninya sejak 1979 sampai sekarang. Pada
1984 Eddy bersama Budi Riyanto, Rudi St Darma dan Ganda Sumpena,
mendirikan kelompok Karung (Kerabat Kartunis Bandung), di Studio
Bambang Sapto. Pada 1995 Eddy juga sempat mengetuai Pakarti
(Persatuan Kartunis Indonesia). Sementara itu pada 1998 s.d. sekarang
ia juga tercatat sebagai anggota Yayasan Jendela Seni Bandung, dan
ketua Matra Mata Bandung (2003 s.d. sekarang).

Sebagai perupa, Eddy Hermanto sangat menghayati makna positif
kegiatan berkesenian sebagai sumber penciptaan seni yang seakan tak
pernah surut. Ia dengan sadar menghidupkan spirit berkesenian untuk
mendorong gerak kreatif menuju terciptanya karya seni rupa, karikatur
dan tulisan tentang itu. Bagi Eddy berkesenian adalah inspirasi,
idiologi sekaligus metode dalam menyikapi hidup dan kehidupan. Karya
seninya lahir dari kesenangan dan kebebasannya, mempermainkan
persepsi pribadi, fantasi, imajinasi bahkan ilusi dan halusinasi
sebagai alat ampuh bagi daya kreatifnya dalam memainkan dekonstruksi,
pendistorsian, dan penyimpangan berbagai realitas kehidupan dalam
kanvas lukisannya. Itulah rangkaian realitas yang hadir sebagai imaji
atau penampakan ikon-ikon dalam narasi rupa karya Eddy Hermanto.

Eddy dalam berkarya juga mengolah distorsi sesosok figur yang
diplesetkan secara kreatif, sehingga menghasilkan parodi,
menjungkirbalikkan arah logikanya, mengubah fakta jadi fiksi atau
sebaliknya. Lukisan-lukisan Eddy belakangan ini muncul dengan tata
rupa figuratif realistik. Figuratif dalam arti menampilkan figur-
figur yang teridentifikasi secara kasat mata (manusia, binatang,
benda-benda atau makhluk campuran manusia binatang), dan realistik
oleh kuatnya referensi terhadap struktur realitas tertentu meski
dalam bentuk terpiuh, hiperbolis yang cenderung karikatural. Figur-
figur tersebut disusun dalam suatu kontelasi yang menyiratkan laku
tertentu.

Itulah kesan selintas tentang Eddy Hermanto dan karya-karyanya.
Adapun ketika menanggapi keberadaan dunia seni rupa yang secara umum
terkesan tak begitu bisa menjanjikan dalam menopang kehidupan, Eddy
dengan optimisme tinggi menjawab, "Dalam hal ini kita harus memberi
wawasan kepada masyarakat. Masyarakat sebagai bagian dari
infrastruktur dituntut harus mampu memahami seni dan bisa
mengapresiasi seni. Kita juga harus mampu membuang image "ortodok"
dari sebagian masyarakat yang menilai bahwa seni rupa itu "madesu"
(masa depannya suram). Apalagi kalau sebuah profesi (melukis) sudah
dikait-kaitkan secara finansial. Di negara Barat justru pekerja seni
lebih dihargai. Jadi, berusahalah terus meyakinkan masyarakat bahwa
seni rupa itu pada prinsipnya sudah sejajar dengan ilmu-ilmu lain, "
ujar suami Siti Rahayu (39) dan ayah dari Intan Agustin (14) dan Raga
Gumelar (10) ini.

Sepanjang kariernya sebagai pelukis, 1981 s.d. 2003 Eddy Hermanto
telah 23 kali melakukan pameran bersama di dalam maupun luar negeri,
dan melakukan satu kali pameran tunggal bertajuk Berkebun Di Atas
Kepala di Galeri Bandung pada tahun 2000. Sedangkan pada Maret 2004
Eddy Hermanto telah melangsungkan pameran bersama bertajuk Art Clips
menemani Edo Sahir dan Dodo Abdullah di Griya Seni Popo Iskandar
(GSPI). Pada 27 Juni 2004 pameran bertajuk Art Clip garapan MatraMata
ini kembali akan digelar di Museum Ronggowarsito Semarang. Dalam
pamerannya kali ini, akan tampil pula karya Edo Sahir, Dodo Abullah,
juga Syah Fadil yang ketika pameran Art Clips di GSPI Maret lalu,
sempat jadi kurator bersama Mamannoor. Pameran karya empat perupa
Bandung di Museum Ronggowarsito, akan digabung dengan sejumlah karya
dari tiga atau empat perupa asal Semarang. (Suhendra Juhara)***

Read more...

Dwi Koendoro

Nama Dwi Koen lekat dengan nama tokoh ciptaannya, Panji Koming. Tokoh
kartun di edisi minggu harian Kompas itu digambarkan sebagai tokoh
yang lugu, polos, tapi cerdik dan sarat dengan kritik sosial yang
mengena. Dan ternyata, nama Panji Koming juga menggema di mancanegara
setelah dinobatkan sebagai tokoh kartun wilayah Asean. Melalui Panji
Koming itu, nama Dwi Koen atau Pak DeKa—demikian ia biasa disapa—pun
turut terlambung sebagai kartunis yang malang melintang sejak 1979.

Bernama lengkap Dwi Koendoro Brotoatmodjo, ia berasal dari "keluarga
teknik". Ayahnya, R. Soemantri Brotoatmodjo yang insinyur teknik,
pada awalnya menginginkan anak kedua dari enam bersaudara ini menjadi
insinyur pula. Namun, setelah mengetahui bakat si anak, Soemantri
membebaskannya menentukan sendiri bidang pendidikan yang
diinginkannya. Ternyata, sejak duduk di bangku sekolah dasar, Dwi
Koen telah menemukan bakatnya: menggambar. Mungkin bakat itu mengalir
dari ibunya, seorang perias pengantin. Paman dari pihak ibu juga
tukang gambar.

Bakatnya mulai terasah ketika pelukis Herman, seorang tetangganya di
Bandung, mengajaknya bergabung di sanggar Cipta Panca Angkasa. "Saya
anggota termuda di sanggar tersebut," katanya. Sementara di sekolah,
guru gambarnya, Abibi, meletakkan dasar-dasar teknik gambar pada
dirinya. Pindah ke Surabaya mengikuti keluarganya, Dwi Koen sempat
menjadi pembina tetap siaran anak-anak dan remaja di RRI Surabaya.

Untuk memenuhi tekadnya menjadi pelukis, ia hijrah ke Yogyakarta dan
masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Awalnya ia mengambil
jurusan seni lukis, tapi kemudian beralih ke jurusan ilustrasi
grafik. "Di jurusan seni lukis yang dipelajari adalah seni murni. Itu
bukan minat saya," tutur Dwi Koen, yang tujuh tahun belajar di ASRI,
1958-1965.

Sambil kuliah, ia menjadi ilustrator di majalah Waspada, Minggu Pagi,
dan Kedaulatan Rakyat. Kembali ke Surabaya seusai kuliah, Dwi Koen
bekerja di Televisi Eksperimentil Badan Pembina Pertelevisian
Surabaya, menjabati direktur produksi. "Di tempat inilah saya merasa
dibesarkan, banyak belajar tentang ilustrasi grafik," katanya.

Tak cukup di Surabaya, pada 1972 ia mengadu peruntungan di Jakarta,
dengan bekerja sebagai ilustrator dan kartunis di penerbit PP
Analisa, kemudian di majalah Stop dan Senang. Empat tahun kemudian,
barulah Dwi Koen menjadi karyawan tetap di PT Gramedia, ditugaskan
bagian tata artistik dan ilustrator. Sejak itu, paparnya, "Karir saya
menanjak. Saya sering diserahi tugas menggarap skenario untuk
storyboard visualizer, terkadang menjadi sutradara dan editor untuk
iklan dan film dokumenter."

Atas saran seniornya, kartunis G.M. Sidharta, Dwi Koen membuat komik
kartun yang bermuatan kritik: Panji Koming, yang dimuat di Kompas
edisi minggu sejak 14 Oktober 1979 hingga sekarang. Selain
singkatan `Kompas Minggu', Koming juga berarti bingung atau gila.

Ketika hendak membuat Panji Koming, Dwi Koen mengadakan riset lebih
dulu. "Risetnya tidak terlalu khusus. Saya hanya berusaha
menyambungkan ceritanya," katanya. Adapun idenya berasal dari
berbagai isu dan peristiwa yang berkembang dalam masyarakat. Walau
seting ceritanya zaman Majapahit, ia menganalogikan masa tersebut
dengan kondisi Indonesia masa kini, terutama masa Orde Baru dan
sesudahnya. "Saya mau menyindir perilaku yang tidak manusiawi dengan
bahasa yang tidak terlalu vulgar, dengan canda," ujarnya. Kadang
gambar yang terlalu berani tidak naik cetak. Tapi, sejak 1999, ketika
Soeharto sudah terjungkal dari tahtanya, Dwi Koen lebih berani.

"Komik mempunyai the magic of picture and spoken words," katanya,
mengapa ia menekuni komik. "Komik mempunyai daya magis dan persoalan
sendiri yang khas dibanding dengan karya lain. Gambar komik harus
detail, harus mampu menampilkan ekspresi fisik maupun psikis dari
tokohnya," ujarnya lagi.

Selain itu, Dwi Koen juga diserahi tanggung jawab sebagai Kepala
Bagian Produksi PT Gramedia Film, kemudian Kepala Bagian Audio Visual
PT Gramedia Film bidang dokumenter, film iklan, animasi, dan grafis
serta program slide dan studio rekaman.

Ide-idenya sempat mengalami kemandekan ketika bagian audiovisual
ditutup. Untunglah Jakob Oetama selaku pemimpin umum harian Kompas
memintanya menjadi staf redaksi surat kabar tersebut. Ia pun
mengundurkan diri dari PT Gramedia dan memfokuskan diri pada
penyuntingan naskah berita dan pembuatan skrip Panji Koming.

Dalam bidang animasi, Dwi Koen pernah menerima penghargaan
International Animation Festival Hiroshima 1994. Ia juga merasa
dihargai ketika Panji Koming dibuatkan seri prangko, dan sewaktu
sejumlah mahasiswa membuat skripsi tentang tokoh kartunnya itu. Namun
di luar penghargaan ini, Dwi Koen merasakan profesi kartunis masih
dipandang sebelah mata. "Penghargaan terhadap kartunis masih lebih
rendah dibanding pemusik," katanya. Di luar kartun, ia banyak
memperoleh penghargaan lain.

Walau yang disindir sering pejabat, ia pernah dapat komplain dari
masyarakat. Saat terjadi kelangkaan air bersih, dalam tajuk rencana
di majalah Humor, ia justru membela Perusahaan Daerah Air Minum dan
menyalahkan masyarakat. Santai saja ia menanggapi protes itu: "Kenapa
marah? Kan salah sendiri, wong Perusahaan Daerah Air Minum hanya
menyediakan air untuk minum kok, kenapa malah digunakan untuk mandi,
cuci mobil, dan lain-lain?"

Sebagai orang media massa, Dwi Koen terbiasa melihat satu hari atau
satu minggu ke depan. Itulah yang dilakukannya ketika ia membuat
kartun Megawati menjelang terpilihnya ia menjadi wakil
presiden. "Saya sudah membuat kartun tersebut sehari sebelum Megawati
benar-benar (dipastikan) menjadi wapres," tuturnya. Begitu Megawati
naik, "Kartun saya langsung naik cetak sorenya."

Menikah dengan Dewasih pada 1969, pasangan ini dikaruniai tiga anak.
Kebetulan keduanya sama-sama pekerja seni. Dewasih sendiri lulusan
Desain Komunikasi Visual ITB. "Saya mengejar dan menyatakan cinta
padanya sejak 1959," tuturnya, yang baru mendapat jawaban "ya" lima
tahun kemudian.

Dwi Koen membebaskan ketiga anaknya memilih sendiri pendidikan, dan
tidak mengarahkan anak-anaknya ke suatu bidang. Tapi, mungkin karena
terlalu sering berinteraksi dengan ayahnya, mereka menjadi suka pada
gambar. "Karena mereka suka, ya saya dukung," ujarnya. Sekarang
ketiga anaknya bekerja di media, ikut dalam dunia ilustrasi dan
gambar, bahkan ada yang menjadi kepala bagian artistik di salah satu
media elektronik.

Dwi Koen telah menggambar puluhan sampul buku. Saat ini ia sedang
mencoba membuat animasi dan telekomik Indonesia, dengan bantuan
komputer agar hasilnya lebih maksimal. Tapi, katanya, "Saya tetap
lebih senang menggambar dengan pensil."

Di waktu luang, Pak DeKa memmanfaatkannya untuk tidur. Ia hobi
bermain piano dan mendengarkan musik. "Saya biasa mendengarkan musik
ketika saya suntuk atau dalam upaya mencari ide," kata pengagum tokoh
kepanduan Lord Baden-Powell ini.

sumber:dwikoen

Read more...

Kartunis Yogyakarta dari Tiga Generasi Berkiprah di TEMBI

SENI KARTUN MERUPAKAN BENTUK KARYA SENI RUPA yang dapat mempengaruhi
opini publik, baik secara langsung maupun tidak. Seni Kartun dapat
membuat penontonnya tersenyum geli ataupun sebaliknya tersinggung
karena merasa disindir atau tersindir kepentingannya. Pujian dan
cacian, itulah dua hal yang sekaligus dapat diciptakan oleh seorang
kartunis dengan kepiawaian ide dan gambarnya melalui kartun.

Sebut saja Ons Untoro yang mengungkapkan bahwa kartun adalah tanda
bahwa kritik dilakukan tidak dengan amarah, tetapi sebuah sindiran
parikeno. Karena itu, melihat kartun sebagai sebuah informasi yang
tersembunyi, bukan hanya sekedar karya iseng belaka, menunjukkan
bahwa orang tersebut dalam keadaan sehat walafiat. Kalau kartun
dimengerti sebagai upaya untuk melecehkan, sesungguhnya orang
tersebut sedang tidak sehat nuraninya saat menikmati kartun.

Rumah Budaya Tembi Yogyakarta memberi ruang bagi seniman kartun
(kartunis) Yogyakarta untuk membuka rangkaian kegiatan 2004 rumah
budaya yang terletak di Jl. Parangtritis Km. 8,4 Bantul, Jumat
(23/01) lalu dengan tema "Wolak-Waliking Jaman". Pun kesempatan
tersebut menjadi ajang unjuk gigi kartunis dan nostalgia akan
keberadaan "Pakyo" Paguyuban Kartunis Yogyakarta sekaligus
reaktualisasi seni kartun dan masa depannya di Kota Gudeg ini.

Kota Yogyakarta merupakan gudangnya kartunis, ini dibuktikan dengan
banyaknya kelompok-kelompok kartunis, dan menjadi motivasi tumbuhnya
kelompok-kelompok kartunis di Indonesia lewat "Pakyo" yang telah
eksis belasan tahun lalu dan memotori terbentuknya "Pakarti"
Persatuan Kartunis Indonesia yang berpusat di Jakarta. Dan saat ini
didukung pula dengan keberadaan studi kartun di ISI
Yogyakarta, "KartunISI" serta pernah berpameran dua kali di kota
Yogakarta ini, dari kegiatan tersebut dapat menjadi media tumbuhnya
sumberdaya kartunis di Yogyakarta tak akan pernah terputus.

Sekitar 20 peserta kartunis Yogyakarta, dari tiga generasi, yaitu
generasi pertama adalah kartunis yang aktif awal tahun 70`an,
generasi kedua tahun 80`an, dan generasi ketiga tahun 90`an menggelar
karya-karya mereka. Interpretasi dari masing-masing kartunis yang di-
visualisasi-kan dalam bentuk karya kartun bisa membuat orang jengkel
sekaligus geli dalam melihat perubahan jaman yang dikartunkan.

Dari masing-masing generasi mempunyai cita rasa yang berbeda-beda
mengenai perubahan tersebut. Barangkali ada generasi yang melihat
bahwa tidak ada yang istimewa dalam perubahan, namun ada pula
generasi yang bisa jernih melihat jaman yang berubah dan menghasilkan
figur yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Pameran Kartun sebagai salah satu tanda Kegiatan Rumah Budaya Tembi
2004 "Wolak-Waliking Jaman" ini dibuka oleh Direktur Rumah Budaya
Tembi Nuranto. Mewakili peserta kartunis Bagong Soebardjo, yang kerap
dipanggil "Bagong", dalam sambutannya mengatakan bahwa pameran ini
diharapkan dapat menggugah teman-teman kartunis "Pakyo" untuk terus
berkarya.

Sumber : Dhananti Santi Budi 24 Januari 2004, 22:28:08 wib

Read more...

Persatuan Kartunis Indonesia

Indonesia Cartoonist Association

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

Footer


  © Blogger templates Inspiration by Monkey Dollars Blog 2008

Back to TOP